GERGA RUMAH ADAT BATAK KARO

GERGA RUMAH ADAT BATAK KARO
SYMBOL DAN PEMAKNAANNYA
Erikson Nainggolan
Pendidikan Teknik Bangunan
Fakultas Teknik
UNIMED       
  Hasil gambar untuk rumah adat karo
Masyarakat Batak Karo tersebar di dua wilayah, yaitu dataran tinggi dan dataran rendah Sumatera Utara. Keduanya berkembang berdasarkan kondisi geografis, social budaya, kepercayaannya masing-masing. Masyarakat Batak Karo yang tinggal di gunung atau dataran tinggi mampu mempertahankan identitas tradisinya selama berabad-abad silam. Kondisi geografis dan topografinya membentuk sistem kebudayaan mereka yang terekspresikan dari sistem kepercayaan dan kekerabatan. Kepercayaan kuno masyarakat Batak Karo adalah kepercayaan animism dan hinduisme, yang berhubungan dengan kepercayaan pada roh dan daya-daya transenden di rumah dan lingkungan sekitarnya. Hubungan magis terhadap roh dan yang gaib tersebut dilakukan melalui mediator guru, dukun, raja, termasuk juga kalimbubu dalam kekerabatan rakut sitelu.  Konsekwensi logisnya, bahwa hubungan dan unsur magis kemudian diberi tanda dan makna simbolik dalam bentuk ragam hias yang disebut gerga. Gerga yang mengandung makna magis dan sakral adalah motif pengretret dan kepala kerbau, tetapi selain sebagai pemenuhan fungsi simbolik juga sebagai fungsi estetik. Namun berakhirnya kekuasaan raja dan diterimanya agama-agama wahyu, maka ekspresi nilai kepercayaan maupun makna gerga seperti pengretret serta kepala kerbau tidak lagi manis dan sakral, melainkan berubah sebagai hiasan (profane) dan pelengkap estetik semata.
Berdirinya rumah-rumah adat Batak Karo, karena sistem kepercayaan kuno, juga karena pengaruh hindu dalam konsep triloka, yang diimplementasikan adanya tuhan adat debata (debata datas, debata teruh, dan debata tengah) dengan pembagian bidang kosmo, yaitu bawah, tengah, dan atas. Selain itu keberadaan raja-raja yang memiliki rumah adat tersebut, membawa pengaruh dan mewariskan tradisi rumah adat kepada masyarakat tradisional. Kehadiran gerga karena ketakutan dan keterbatasan manusia dari gangguan roh jahat dan yang tak tampak. Maka kehadiran gerga merupakan personifikasi atas subjek yang mereka butuhkan. Ternyata setelah raja-raja atau orang kaya pemilik rumah meninggal dunia, maka terjadi pergeseran pranata social, khususnya symbol-simbol dan kebermaknaan rumah adatpun ikut bergeser, dan kemudian berubah menjadi ikon pada bangunan-bangunan modern. Orang-orang Batak Karo secara perlahan mulai menganut sistem kepercayaan agama wahyu, sistem symbol dari gerga jadi profan.

Hasil gambar untuk rumah adat karo
Rumah adat Batak Karo adalah rumah asli suku primitif yang banyak kesamaannya dengan kebudayaan megalitik. Sebab dalam sejarah perkembangan kepercayaan Hindu, ternyata tidak memberi pengaruh pada rumah adat. Pengaruh hindu hanya masuk di lapisan atas, yaitu kalangan raja-raja atau orang-orang kaya. Masuknya pengaruh Hindu membawa percampuran (sinkret) dengan kepercayaan asli orang Karo. Rumah adat Batak Karo berfungsi sebagai tempat tinggal, berlindung, dan beristirahat. Rumah adalah tempat kehormatan dan status sosial. Rumah adat memiliki fungsi symbol dan adat-istiadat. Rumah adat bukan sekedar milik pribadi atau keluarga-keluarga yang menghuninya, tetapi juga symbol sosial dan kebersamaan. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pengertian rumah adat Batak Karo adalah seni bangunan (arsitektur) yang mengandung berbagai bentuk dan makna simbolis, sebagai tempat tinggal menjalankan fungsi-fungsi keluarga berdasarkan sistem kekerabatan dan sistem kepercayaannya.
Rumah adalah personifikasi atas gunung, dan gunung tempat bersemayamnya para roh dan dewa. Fungsi-fungsi simbolik magis yang sebelumnya menjadi kesemenaan berdasarkan pemilik simbol itu, kini ditinggalkan. Semenjak masyarakat Batak Karo memeluk agama samawi, hubungan yang sakral terhadap Tuhan dijalankan secara individual. Peranan dukun atau guru sebagai mediator ritual telah digantikan oleh pendeta, ustadz, alim ulama, maupun tokoh masyarakat. Masyarakat karo secara sosial hanya menjalankan fungsi-fungsi kekerabatan sistem rakut sitelu dan marga-marga. Simbol estetik rumah adat yang pernah diklasifikasikan berdasarkan sistem kepercayaan debata (debata datas, debata teruh, dan debata tengah) kini sudah hilang dan menjadi profan. Gereja evolusi religi seperti masyarakat Karo ini mengalami orientasi universal, termasuk simbol-simbol kepercayaannya.
Ternyata kehadiran gerga tidak hanya karena sistem kepercayaan, tetapi karena keberadaan rumah adat sebagai rumah rajayang membutuhkan elemen estetik. Makna kehadiran gerga pada rumah adat Batak Karo dapat dilihat berdasarkan peletakannya pada rumah adat, yang terdiri dari tiga tingkatan. Pertama yang di bawah (bagian melmelen), kedua di tengah (derpih), ke tiga berada di atas (ayo). Maka dari sudut pandang, yaitu sudut pandang social dan sistem kekerabatan, gerga yang berada pada bagian bawah rumah melambangkan keberadaan anak beru, dan yang berada di tengah melambangkan keberadaan senina, kemudian yang berada di atas melambangkan kedudukan kalimbubu. Selanjutnya dilihat berdasar pola dan motifnya, ternyata gerga dengan motif berupa stilasi tumbuhan hanya melambangkan hiasan saja (profan) kemudian pola geometris dengan motif yang menyebutkan nama-nama tumbuhan seperti bunga gundur, pantil manggis, embun sikawiten, cikala pancung, dll, melambangkan ajaran (semi sakral), dan motif kepala kerbau melambangkan pemujaan (sakral). Dengan demikian susunan gerga yang dimulai dari atas, berupa kepala kerbau kiranya melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Konsekwensi logisnya, bahwa semua unsur magis harus memiliki tanda yang ditempatkan pada rumah adatnya, dan diberi makna (konotatif) hingga menjadi symbol visual berupa pengretret  dan kepala kerbau yang disebut gerga. Selanjutnya symbol estetik gerga rumah adat tersebut dianalogikan sesuai sistem kekerabatan “rakut sitelu” tiga strata bawah, tengah dan atas, demikian juga terhadap sistem kepercayaan debata (debata datas, debata teruh, dan debata tengah). Berdasarkan pembagian ini pula, disimpulkan bahwa bentuk dan makna simbolik gerga merupakan representasi religi (sakral), kekerabatan (semi sakral) dan hiasan (profan) berdasarkan penempatan pada ketiga bidang kosmo rumah adat Batak Karo.



Komentar